Ancaman Game Roblox dan Ujian Literasi Digital Anak Indonesia
Oleh : Inggar Saputra (Praktisi Pendidikan dan Kebangsaan)

Mediaberitakini.com | Kehidupan manusia termasuk anak di era digital merupakan sesuatu yang sulit dibendung pengaruhnya. Secara positif, dunia digital menghubungkan anak dengan berbagai platform pembelajaran dan games online.
Sebagian game online mampu menciptakan daya kreatif anak sehingga memicu anak untuk tertantang menyelesaikan sebuah persoalan. Kondisi ini tentu sangat baik dalam mendorong kreativitas dan pengembangan karakter anak di masa depan. Kemampuan berfikir kritis anak juga dilatih melalui permainan online yang bercirikan nilai positif bagi perkembangan tumbuh kembang anak ke depan.
Tetapi tidak sedikit games online yang menimbulkan dampak merusak bagi perkembangan fisik, otak dan karakter anak. Salah satunya yang belakangan menjadi sorotan banyak kalangan di masyarakat adalah game roblox.
Tak kurang kritikan datang mulai dari orang tua sampai level Menteri. Mereka menilai pengembang game mengabaikan nilai dan budaya lokal sehingga game Roblox berpotensi merusak karakter anak Indonesia. Pemerintah kemudian mewacanakan memblokir gim Roblox sebagai tindakan tegas mengingat potensi negatif Roblox bagi anak-anak.
Berdasarkan kondisi nyata di lapangan, game Roblox memang mengabaikan nilai sosial budaya bangsa yang berdasarkan Pancasila. Konten game yang mengeksploitas seksual daring mendorong anak berpotensi mengabaikan nilai kemanusiaan, keadaban, sopan-santun, dan keadilan dalam memang persoalan gender.
Apalagi ada indikasi penipuan, grooming, perundungan dan serangan seksual dari predator. Hal ini jelas bertentangan dengan karakter Ketuhanan misalnya penipuan yang tidak sesuai dengan nilai kejujuran sebagai identitas yang ingin ditanamkan orang tua dan Lembaga pendidikan formal bagi tumbuh kembang anak.
Adanya grooming, perundungan dan serangan seksual juga berbahaya bagi masa depan anak Indonesia. Pembudayaan dan menganggap tindakan kekerasan seksual sebagai kewajaran akan membuat anak kelas terbiasa memandang rendah orang lain khususnya lawan jenisnya.
Fakta dari kerusakan otak, mengabaikan moralitas dan meminggirkan kultur budaya masyarakat Indonesia menandakan pengembang game Roblox sedang berusaha melakukan “cuci otak” kepada anak Indonesia melalui sesuatu yang disenangi anak Indonesia. Untuk itu, tindakan pemerintah Indonesia untuk memblokir game Roblox jelas merupakan tindakan tepat, terukur, tegas dan efektif dalam mendorong tetap terjaganya pendidikan dan pengembangan karakter positif, sehat (mental, lahir dan batin( dan produktif kepada anak Indonesia.
Meski pengembang Roblox mengklaim sudah ada mekanisme filer dan moderasi bagi pengguna kalangan anak-anak. Tetapi masih ditemukan kasus bagaimana identitas pengguna mudah dimanipulasi dan tidak ada upaya serius pengembang melakukan evaluasi terhadap kondisi ini.
Pengembang game Roblox juga meminggirkan protes orang tua mengenai tidak adanya batasan jelas interaksi pengguna anak-anak dan dewasa. Ini tentu menimbulkan kekecewaan atas ketidakseriusan pengembang game yang hanya memikirkan keuntungan ekonomis saja tapi gagal memikirkan dampak buruknya bagi karakter anak Indonesia.
Selain tindakan blokir terhadap game Roblox, penting juga pemerintah Indonesia memikirkan tindakan pencegahan khususnya melalui literasi digital. Sebab sangat disayangkan program literasi digital pemerintah selama ini belum banyak menyasar anak-anak yang senang bermain game online.
Literasi digital lebih banyak menyasar kalangan remaja dan usia dewasa, padahal jelas ada bahaya besar mengintai pengguna game online di kalangan anak. Literasi digital dari pemerintah juga belum banyak menyasar kalangan orang tua, padahal sentuhan parenting dan dorongan edukasi serta pengawasan orang tua kepada anak menjadi penting sebagai solusi preventif agar game online tidak semakin merusak karakter, otak dan emosional anak.
Sehingga menjadi penting selain memblokir games online Roblox, pemerintah melibatkan banyak pihak dalam program literasi digital. Misalnya Kementerian Komunikasi dan Digital bekerjasama dengan komunitas orang tua, Lembaga perlindungan anak dan kementerian terkait pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Mereka perlu dilibatkan dalam mendorong edukasi parenting berbasis digital agar anak tidak kehilangan kesempatan menikmati masa anak-anak. Selain itu perluasan program literasi digital juga perlu bekerjasama dengan yayasan peduli anak dan disajikan secara kreatif, bukan seminar atau webinar saja. Misalnya literasi digital disajikan dalam bentuk dongeng, storytelling, pemutaran film dan kreasi kreatif lainnya yang sesuai dengan kebutuhan anak. Sehingga pesan mengatasi dampak buruk games online dapat dipahami dengan baik oleh anak sebagai sasaran utama yang perlu diselamatkan dari bahaya games online.







