Ibu Sebagai Sumber Cinta dan Fondasi kurikulum Berbasis Cinta dalam Pendidikan Islam

Dr Jaenulloh M,pd akademisi UMALA Lampung

 

mediaberitakini.com Lampung Setiap tanggal 22 Desember, ketika Hari Ibu diperingati, refleksi tentang pendidikan Islam menemukan momentumnya. Sebab, pendidikan pertama yang dialami manusia bukanlah kurikulum formal, melainkan kurikulum cinta yang hidup di rahim dan pangkuan seorang ibu. Dalam konteks ini, kehadiran Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diinisiasi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia menjadi langkah strategis sekaligus simbolik: negara mulai mengakui bahwa cinta adalah fondasi esensial pendidikan, bukan sekadar nilai tambahan.
Secara substantif, KBC dapat dibaca sebagai upaya re-humanisasi pendidikan agama.

Selama bertahun-tahun, pendidikan agama kerap direduksi menjadi transmisi kognitif dan penekanan normatif, yang dalam praktiknya tidak jarang melahirkan kekerasan simbolik, relasi hierarkis yang kaku, serta krisis empati di ruang-ruang belajar. KBC hadir untuk mengoreksi arah tersebut dengan menegaskan bahwa pendidikan Islam harus berangkat dari rahmah, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat peserta didik.

Di titik inilah, teladan ibu menemukan relevansinya. Rasulullah Saw menempatkan ibu pada posisi utama—“Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu” (HR. Bukhari dan Muslim) sebuah penegasan bahwa pendidikan berbasis pengorbanan, cinta, dan kesabaran adalah fondasi pembentukan manusia. KBC sejatinya adalah artikulasi kebijakan dari praktik keibuan yang telah lama hidup dalam tradisi Islam, tetapi sering terpinggirkan dalam sistem pendidikan formal. KBC ini berupaya mentransformasikan paradigma pendidikan dari sekadar kepatuhan struktural menuju kesadaran moral. Paulo Freire menegaskan bahwa pendidikan yang membebaskan hanya mungkin lahir dari cinta dan dialog (Freire, 1970). KBC bergerak dalam arah ini: menjadikan peserta didik subjek bermartabat yang tumbuh melalui relasi edukatif yang manusiawi, bukan objek yang dibentuk melalui ketakutan.

Dalam perspektif Islam, Al-Ghazali telah lama mengingatkan bahwa akhlak tidak dapat ditanamkan melalui paksaan, melainkan melalui pembiasaan yang disertai kasih sayang dan keteladanan (Al-Ghazali, 2005).

Kehadiran KBC, jika dijalankan secara konsisten, berpotensi menggeser praktik pendidikan agama dari pendekatan koersif menuju pendekatan transformatif—dari hukuman menuju keteladanan, dari indoktrinasi menuju internalisasi nilai. Quraish Shihab menegaskan bahwa pendidikan awal bersifat emosional sebelum rasional, dan di situlah peran ibu menjadi sentral (Shihab, 2013). Analisis ini memperkuat argumentasi bahwa kehadiran KBC adalah untuk merespons terhadap kebutuhan psikologis dan spiritual peserta didik di tengah kompleksitas zaman.

Pendidikan yang kehilangan dimensi cinta akan melahirkan generasi yang cerdas secara kognitif, tetapi rapuh secara moral. Pada akhirnya, KBC adalah upaya mengembalikan pendidikan Islam pada fitrahnya: membentuk manusia beriman, berakhlak, dan beradab melalui cinta. Dari ibu, kita belajar bahwa cinta adalah kekuatan transformatif paling mendasar. Dr Jaenulloh M,pd  ( kini ).

Show More
Back to top button