Entepreneurial Mindset Dan intelligent Economy : Pendidikan Transformatif Untuk Indonesia Berdaulat
Dr Susetya Herawati ST M,Si

mediaberitakini.com Salah satu kelemahan mendasar sistem pendidikan nasional adalah orientasi yang masih berpusat pada pencetak tenaga kerja, bukan pencipta nilai. Sekolah dan perguruan tinggi lebih banyak menyiapkan lulusan untuk mengisi struktur pekerjaan yang ada, bukan untuk membangun struktur baru. Akibatnya, banyak generasi muda cerdas secara akademik tetapi ragu mengambil inisiatif kreatif dalam kehidupan nyata.
Di sinilah pentingnya pendidikan transformatif—pendidikan yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi membentuk karakter, nilai, dan pola pikir wirausaha (entrepreneurial mindset). Pendidikan transformatif memberi ruang bagi keberanian bereksperimen, menjadikan kegagalan sebagai bagian alami dari proses penciptaan, dan menumbuhkan motivasi berprestasi yang menjadi motor kemajuan bangsa.
Entrepreneurial Mindset sebagai Karakter Bangsa
Entrepreneurial mindset adalah cara berpikir yang melihat peluang di balik keterbatasan. Ia mencakup keberanian mengambil risiko, kemandirian, kreativitas, dan resiliensi. Joseph Schumpeter menegaskan bahwa perkembangan ekonomi digerakkan oleh inovasi individu yang berani menciptakan kombinasi baru dalam produksi, teknologi, dan organisasi sosial.
David McClelland menambahkan bahwa kemajuan suatu bangsa berkaitan erat dengan tingginya motivasi berprestasi masyarakatnya. Bangsa maju bukanlah bangsa dengan sumber daya alam melimpah, melainkan bangsa dengan warga yang memiliki dorongan internal untuk mencipta. Pendidikan Indonesia yang terlalu berorientasi pada stabilitas pekerjaan berisiko membatasi potensi generasi muda sebagai agen perubahan sosial dan ekonomi.
Nilai Lokal sebagai Fondasi Wirausaha
Indonesia memiliki kekayaan nilai lokal yang dapat menjadi fondasi entrepreneurial mindset:
• Gotong royong → membangun jejaring dan kolaborasi usaha.
• Kemandirian → melatih daya juang dan inisiatif.
• Keberanian → menumbuhkan mental risk-taking dan resiliensi.
Tradisi Nusantara sejak lama mengenal praktik ekonomi berbasis kebersamaan: koperasi desa, jaringan perdagangan maritim, hingga etika komunitas. Mohammad Hatta melihat koperasi sebagai bentuk ekonomi yang selaras dengan kepribadian bangsa. Artinya, kewirausahaan Indonesia harus berakar pada solidaritas sosial, bukan sekadar individualisme ekonomi.
Pancasila sebagai Orientasi Nilai
Entrepreneurial mindset di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari Pancasila.
• Ketuhanan → integritas dan etika bisnis.
• Kemanusiaan → usaha yang inklusif dan berkeadilan.
• Persatuan → wirausaha sebagai perekat sosial.
• Kerakyatan → partisipasi komunitas dalam pengambilan keputusan.
• Keadilan sosial → distribusi manfaat usaha secara merata.
Dengan orientasi ini, pendidikan kewirausahaan tidak hanya melahirkan pengusaha sukses, tetapi wirausahawan transformatif yang menciptakan solusi bagi masyarakat.
IPTEK sebagai Pilar Peradaban
Jika kewirausahaan adalah kemampuan menciptakan nilai dalam ruang sosial-ekonomi, maka IPTEK adalah kemampuan menciptakan masa depan dalam ruang peradaban. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang memimpin perubahan global bukanlah bangsa dengan sumber daya alam terbesar, melainkan bangsa yang mampu menghasilkan pengetahuan baru secara berkelanjutan.
• Revolusi Industri di Inggris (abad 18–19) lahir dari inovasi mesin uap dan teknologi manufaktur, bukan dari kekayaan alam semata.
• Jepang pasca Perang Dunia II bangkit dari kehancuran melalui investasi besar dalam riset dan teknologi, menjelma menjadi pusat teknologi dunia.
Paul Romer dalam teori pertumbuhan endogen menegaskan bahwa kemajuan ekonomi modern ditentukan oleh kemampuan masyarakat menghasilkan ide dan inovasi. Negara yang hanya mengonsumsi teknologi akan stagnan, sementara negara yang berani berinovasi akan memimpin perubahan global.
Dari Knowledge-Based Economy ke Intelligent Economy
Selama dua dekade terakhir, dunia mengenal knowledge-based economy—ekonomi yang bertumpu pada pengetahuan sebagai sumber daya utama. Namun kini pergerakan pengetahuan telah memasuki tahap baru: intelligent economy.
Intelligent economy adalah tahap di mana pengetahuan tidak hanya dikumpulkan dan disebarkan, tetapi diolah secara cerdas melalui teknologi digital, kecerdasan buatan, dan analitik data untuk menciptakan solusi yang adaptif dan prediktif. Dalam kerangka ini, IPTEK bukan sekadar alat produksi, melainkan sistem yang mampu belajar, menyesuaikan diri, dan memberikan rekomendasi strategis bagi masyarakat dan industri.
Bagi Indonesia, intelligent economy membuka peluang besar:
• Pendidikan transformatif harus melatih generasi muda bukan hanya untuk menguasai pengetahuan, tetapi juga untuk mengolah data, beradaptasi dengan teknologi cerdas, dan tetap berakar pada nilai lokal.
• Entrepreneurial mindset menjadi semakin penting, karena wirausahawan masa depan harus mampu menggabungkan kreativitas budaya dengan kecerdasan teknologi.
• Pancasila memberi arah agar intelligent economy tidak jatuh pada dominasi algoritma semata, melainkan tetap berorientasi pada keadilan sosial, solidaritas, dan keberlanjutan ekologis.
Penutup
Bangsa yang berdaulat bukanlah bangsa dengan sumber daya alam terbesar, melainkan bangsa yang mampu melahirkan ide-ide baru yang mengubah dunia. Dalam era intelligent economy, pendidikan transformatif Indonesia harus menumbuhkan entrepreneurial mindset, mengintegrasikan nilai lokal dan Pancasila, serta menjadikan IPTEK sebagai pilar peradaban yang cerdas dan berkeadilan.
“Kewirausahaan adalah ekspresi kecerdasan potensial manusia, sementara IPTEK adalah pilar peradaban. Intelligent economy menuntut Indonesia melahirkan generasi yang berani bereksperimen, berakar pada budaya, dan cerdas menghadapi masa depan.”
Profil Penulis :
Dr. Susetya Herawati ST, M. Si.
Ketua Bidang Pendidikan dan Sosial Budaya Pengurus Pusat FKPPI







