Harmoni Kosmis Dalam Bisnis Dan Desa :Membumikan Pancasila di Era Intelligent Economy
Dr Susetya Herawati ST M,Si Wasekjen PUSKAS IP

mediaberitakini.com Di tengah derasnya arus globalisasi dan revolusi teknologi, Indonesia menghadapi tantangan besar: bagaimana memanfaatkan peluang ekonomi cerdas (intelligent economy) tanpa kehilangan akar budaya dan nilai-nilai luhur bangsa. Pancasila, sebagai jiwa bangsa, tidak boleh hanya menjadi slogan, melainkan harus hadir nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bung Karno pernah menegaskan, “Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua.” Semangat ini menjadi fondasi bahwa pembangunan ekonomi Indonesia harus berlandaskan kebersamaan, bukan individualisme.
Civilizational Consciousness: Harmoni Kosmis Nusantara
Sejak dahulu, masyarakat Nusantara hidup dengan pandangan kosmologis yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Inilah yang disebut civilizational consciousness: kesadaran peradaban yang menempatkan manusia sebagai bagian dari kosmos, bukan penguasa tunggal. Filosofi ini tercermin dalam gotong royong, rasa kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam. Sejalan dengan itu, Yudi Latif menegaskan bahwa “Pancasila adalah filsafat yang diterapkan sehari-hari (Weltanschauung), bukan sekadar ideologi abstrak.” Pandangan ini memperkuat bahwa harmoni kosmis Nusantara harus menjadi jiwa dalam era intelligent economy, agar pembangunan tidak tercerabut dari akar budaya.
Bisnis Berjiwa Pancasila
Bisnis sering dipandang sebagai arena kompetisi dan pencarian keuntungan. Namun, dalam kerangka Pancasila, bisnis harus menjadi sarana pelayanan kepada masyarakat. Entrepreneurial mindset yang berlandaskan nilai keadilan dan keberlanjutan akan melahirkan usaha yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial. Misalnya, usaha kecil di desa yang memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan produk lokal, sambil tetap menjaga kualitas dan nilai budaya. BPIP menekankan, “Ekonomi Pancasila menempatkan manusia sebagai subjek, bukan objek pembangunan. Tujuannya bukan sekadar pertumbuhan, tetapi kesejahteraan yang berkeadilan sosial.” Dengan demikian, bisnis berjiwa Pancasila menolak eksploitasi berlebihan dan memilih jalur yang menyeimbangkan keuntungan dengan tanggung jawab sosial.
Contoh nyata dapat dilihat pada Kopi Gayo di Aceh, di mana petani menggabungkan tradisi lokal dengan sertifikasi internasional. Mereka menjaga kualitas produk sambil tetap berpegang pada nilai keadilan sosial, sehingga kopi Gayo menjadi komoditas unggulan Indonesia di pasar global. Demikian pula, startup desa digital di Banyuwangi memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produk UMKM desa ke pasar nasional. Dengan pendekatan berbasis komunitas, bisnis ini menunjukkan bagaimana intelligent economy bisa tumbuh dari akar lokal.
Desa sebagai Pusat Inovasi
Sering kali desa dianggap tertinggal dibanding kota. Padahal, desa menyimpan potensi besar sebagai pusat inovasi. Dengan teknologi tepat guna, pemberdayaan berbasis kearifan lokal, dan semangat gotong royong, desa dapat menjadi motor penggerak intelligent economy. Contohnya, Desa Ponggok di Klaten yang berhasil mengembangkan wisata berbasis sumber daya air lokal melalui BUMDes. Desa ini meningkatkan pendapatan warga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Ada pula Desa Pujon Kidul di Malang, yang mengembangkan kafe sawah dan agrowisata berbasis gotong royong. Bisnis desa ini tidak hanya menghasilkan profit, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan menjaga identitas budaya.
Desa bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang aktif membentuk arah bangsa. Membumikan Pancasila di desa berarti memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak hanya dinikmati segelintir orang di kota, tetapi juga membawa kesejahteraan bagi masyarakat akar rumput.
Pendidikan Transformatif dan Generasi Berintegritas
Kunci dari semua ini adalah pendidikan transformatif. Pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi harus membangun kesadaran kritis dan integritas. Generasi muda Indonesia perlu dipersiapkan untuk menjadi pencipta nilai, bukan sekadar pencari kerja. Mereka harus mampu menggabungkan kecerdasan digital dengan kebijaksanaan lokal, sehingga inovasi yang lahir tidak kehilangan dimensi moral dan spiritual.
Civilizational consciousness—kesadaran bahwa manusia, alam, dan spiritualitas harus berjalan seimbang—menjadi panduan agar generasi ini tidak terjebak dalam pragmatisme teknologi, tetapi tetap berorientasi pada keberlanjutan sosial-budaya.
Kesinambungan Tradisi dan Modernitas
Contoh-contoh dari luar negeri memang inspiratif, tetapi kekayaan lokal Nusantara memberikan pondasi yang lebih kokoh. Warisan kepemimpinan raja dan kebijaksanaan para Mpu Nusantara menekankan keseimbangan antara inovasi, moralitas, dan pelayanan kepada masyarakat. Kesinambungan ini penting agar penerapan intelligent economy tidak kehilangan relevansi sosiokultural. Dengan membumikan Pancasila, Indonesia dapat mengembangkan model pembangunan yang unik: modern sekaligus berakar pada tradisi.
Penutup
Harmoni kosmis dalam bisnis dan desa adalah jalan untuk membumikan Pancasila di era intelligent economy. Pendidikan transformatif menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi dengan inovasi, moralitas dengan teknologi, lokal dengan global. Visi Indonesia ke depan adalah membentuk generasi yang mampu membaca zaman tanpa kehilangan jati diri, generasi yang cerdas sekaligus berintegritas.
Pancasila sebagai jiwa bangsa memastikan bahwa perjalanan menuju intelligent economy tidak sekadar mengejar efisiensi, tetapi juga keberlanjutan sosial-budaya. Dengan membumikan Pancasila melalui lingkungan, bisnis, dan pemberdayaan desa, Indonesia dapat menghadirkan model pembangunan yang berkeadilan, relevan, dan berakar pada kosmologi Nusantara. Inilah jalan menuju peradaban yang harmonis: modern, berintegritas, dan tetap setia pada jiwa bangsa.
Profil Penulis :
Dr. Susetya Herawati ST, M.Si,
Wakil Sekretaris Jenderal PUSKAS IP
Pusat Kajian Strategis Ideologi Pancasila







