Susetya Herawati Pentingnya Glokalisasi Desa Wisata

 

mediaberitakini.com  Jakarta Globalisasi telah mengubah wajah pariwisata dunia. Mobilitas manusia semakin mudah, arus informasi semakin cepat, dan destinasi wisata tidak lagi hanya bersaing secara lokal, tetapi juga dalam panggung global. Dalam konteks ini, desa wisata Indonesia memiliki peluang besar untuk tampil sebagai aktor global.

Namun, peluang itu hanya akan bermakna jika tetap berakar pada potensi lokal dan berlandaskan paradigma Pancasila. Inilah yang disebut glokalisasi: menghubungkan kekuatan lokal dengan resonansi global.

Sebagai peneliti desa wisata dalam disertasi di Universitas Brawijaya sekaligus trainer bagi dosen pendamping desa wisata, saya melihat desa wisata bukan sekadar destinasi rekreasi, melainkan arena pembelajaran sosial.

Desa wisata menghadirkan praktik gotong royong, musyawarah, dan keadilan sosial—nilai inti Pancasila—dalam bentuk nyata.

Ketika masyarakat lokal diberdayakan untuk mengelola potensi alam, budaya, dan tradisi, mereka tidak hanya menjadi pelaku ekonomi, tetapi juga penjaga karakter bangsa.

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan bahwa hingga 2026 terdapat 6.161 desa wisata resmi di Indonesia. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti bahwa desa wisata telah menjadi laboratorium ekonomi lokal yang mengintegrasikan budaya, spiritualitas, dan teknologi.

Desa wisata menjadi ruang hidup yang mempertemukan nilai tradisi dengan inovasi, sekaligus memperlihatkan bagaimana Pancasila dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep dynamic government menjadi penting dalam konteks ini. Berbeda dengan model manajemen publik Barat seperti NPM (New Public Management) atau NPS (New Public Service), dynamic government berbasis Pancasila menekankan tata kelola yang adaptif, responsif, dan partisipatif.

Pemerintah desa tidak lagi sekadar regulator, tetapi fasilitator yang membuka ruang kolaborasi antara masyarakat, akademisi, dan sektor swasta. Dengan paradigma Pancasila, tata kelola ini memastikan pembangunan tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, dan integrasi budaya.

Glokalisasi desa wisata berarti mengemas potensi lokal agar relevan dalam arus global. Kuliner khas desa, tradisi Lebaran, seni pertunjukan, hingga kearifan lokal dapat menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. Misalnya, festival Lebaran di desa wisata bukan hanya perayaan spiritual, tetapi juga atraksi budaya yang bisa dipromosikan secara global. Produk lokal seperti batik, kopi, atau kerajinan tangan dapat dipasarkan dengan narasi budaya yang kuat, sehingga memiliki nilai tambah di mata dunia.
Budaya Lebaran sendiri menghadirkan arus mudik, silaturahmi, dan tradisi berbagi.

Data Kemenparekraf mencatat bahwa pada Lebaran 2024, pergerakan wisatawan nusantara melonjak 56,38% menjadi 193,6 juta perjalanan. Survei Traveloka 2025 menambahkan bahwa 42% masyarakat merencanakan perjalanan saat Lebaran, dan 45% menjadikan wisata kuliner sebagai prioritas.

Momentum ini dapat dimanfaatkan sebagai energi sosial untuk menghidupkan desa wisata. Ketika masyarakat kota kembali ke desa, mereka membawa modal sosial, ide, dan jejaring. Desa wisata yang dikelola dengan paradigma Pancasila dapat menjadikan Lebaran sebagai titik balik kebangkitan ekonomi lokal.

Dalam arus global, desa wisata Indonesia tidak boleh kehilangan jati diri. Pancasila menjadi filter agar globalisasi tidak mengikis identitas, melainkan memperkuat karakter bangsa. Dynamic government memastikan bahwa proses glokalisasi berjalan dengan adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Desa wisata bukan sekadar mengikuti tren global, tetapi menawarkan alternatif: model pembangunan yang berakar pada nilai, budaya, dan spiritualitas.
Ketika desa wisata, dynamic government, dan glokalisasi bertemu, lahirlah pilar kebangkitan lokal yang mendunia. Pilar ini bukan hanya menopang ekonomi desa, tetapi juga membangun karakter bangsa.

Pancasila menjadi fondasi, glokalisasi menjadi strategi, dan desa wisata menjadi wadah implementasi. Sinergi ini dapat menjadi strategi nasional untuk menggeser paradigma dari employment menuju empowerment, dari sekadar mencari pekerjaan menuju menciptakan peluang.

Desa wisata bukan sekadar destinasi, melainkan simbol kebangkitan lokal dalam arus global. Dynamic government berbasis Pancasila menjadikannya ruang hidup yang adaptif, partisipatif, dan berkeadilan. Glokalisasi, dengan energi sosialnya, memperkuat jejaring dan solidaritas. Ketiganya bersatu menjadi pilar kebangkitan bangsa: membangun ekonomi, memperkuat karakter, dan meneguhkan identitas Indonesia di tengah arus globalisasi.

Profil penulis : Susetya Herawati adalah teoritisi dan praktisi kewirausahaan kontemporer di Indonesia ( editor tim,Redaksi M berita kini )

Show More
Back to top button