Ibadah Shalat Dan Nasab ( Inggar Saputra ).

mediaberitakini.com Apa hubungan nasib manusia dan shalat? Nasehat Gus Baha, seorang ulama kharismatik NU pantas kita renungkan bersama. ”Nasibmu ada pada shalatmu. Jika shalatmu tidak dijaga, maka duniamu akan gelisah. Akhiratmu juga susah. Jika shalatmu dijaga, duniamu tenang dan akhiratmu juga aman” Singkat, padat dan jelas nasihat tersebut. Siapa menjaga shalat, maka Allah akan tundukkan dunia kepadanya. Segala masalah hidup berdatangan kepada kita sebagai manusia, shalat dapat menjadi solusi terbaiknya. Mengadu kepada Allah SWT, ajak berdiskusi bagaimana mengatasi masalah hidup. Insya Allah melalui shalat, jiwa kita akan selalu terhubungkan dengan pemilik langit dan bumi.
Dalam Islam, shalat menduduki posisi penting, utama dan strategis. Mengapa shalat disebut tiang agama, sebab Allah SWT ingin memberikan kita hadiah terbaiknya. Shalat menjadi hadiah terindah dari Allah SWT, sebab di dalamnya terkandung semangat komunikasi dua arah. Setiap manusia, seringkali merasa gelisah ketika masalah dan ujian hidup datang tak kenal henti. Mulai dari sakit, kehilangan barang atau orang yang dicintai, dipecat dari pekerjaan, keluarga butuh makan tapi uang semakin menipis dan beragam ujian hidup lainnya. Manusia yang mengalami masa sulit, seringkali putus asa, seakan Allah SWT berhenti menolong dirinya. Saat kondisi itu terjadi, kita membutuhkan tiang, pegangan dan kompas kehidupan. Melalui shalat, kita akan menemukan solusinya.
Seorang yang terbiasakan shalat, pasti dirinya akan belajar menjaga kesucian. Pribadi yang suci, tidak akan mudah bersikap jahat kepada orang lain. Dirinya akan menjaga lidah, tangan, kaki dan bagian tubuh lainnya dari menyakiti hati orang lain. Dalam kesucian hati, kita akan mudah tenang dalam kondisi apapun, termasuk kondisi sulit dan berduka atas masalah hidup yang datang menerpa. Seorang yang menjaga wudhu dan shalatnya cenderung terdorong memperbanyak dzikir, mengingat Allah SWT segala ketika kita sudah merasakan lelah dan galau, Allah SWT menurunkan pertolongannya. Masalah yang datang menerpa, sekalipun terasa mustahil diselesaikan, maka akan diselesaikan dan diberikan solusinya oleh Allah SWT. Pada titik inilah, shalat berfungsi sebagai sarana menjadi pribadi yang bersih dan suci, sehingga malaikat dan Allah SWT menyenangi orang seperti ini.
Setiap gerakan shalat juga memberikan mendalam dalam kehidupan kita. Bayangkan saja mulai dari takbir, kita memuji Allah SWT, mengakui bagaimana masalah sebesar apapun sangat kecil dan mudah diselesaikan dengan pertolongan Allah SWT. Kemudian membaca doa iftitah dan surat Al-Qur’an mendidik kita mencari solusi masalah hidup kepada Al-Qur’an yang sangat mulia. Ada pula ruku dan sujud, dimana kita menyerahkan diri dan tak pernah berhenti berharap, nasib kehidupan akan membaik setelah tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Mereka yang terbiasakan ruku dan sujud, resapi bacaannya dengan menyelami makna. Sebarkan aura positifnya dengan berkata ”Masalah itu kecil, Allah SWT itu besar. Jika mau mengakui kebesaran Allah, maka sepantasnya manusia tunduk dan patuh kepada yang Maha Besar. Semakin merendahkan diri, percayalah nasib baik dan aura keberuntungan yang positif akan berpihak kepada hidup kita” ( inggar saputra / Pengamat ).
MBK.






