Wirausaha Muda menuju Pembangunan Berkelanjutan

mediaberitakini.com Salah satu persoalan mendasar bangsa Indonesia adalah terus bertambahnya jumlah pekerja dan minimnya jumlah pengusaha. Berdasarkan data BPS, pada Agustus 2024 ada sekitar 56,20 juta orang wirausaha di Indonesia. Proporsinya setara 36,95% dari total angkatan kerja nasional yang berjumlah 152,11 juta orang. Angka ini terhitung sedikit di tengah kebutuhan pencari kerja yang semakin membludak dalam setiap pameran kerja. Sedikitnya minat masyarakat Indonesia dengan beragam alasan baik minim niat berbisnis, kurang modal finansial, lemahnya regulasi mendukung minat wirausaha muda dan alasan lainnya menjadi penyebabnya.
Dari angka yang masih terhitung sedikit, sebuah perkembangan menggembirakan hadir di kalangan anak muda Indonesia. Tren yang berkembang, semakin banyak kalangan muda yang tertarik menggeluti dunia usaha. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, bahwa pada periode Februari 2024, terdapat sekitar 56,56 juta wirausaha di tanah air yang terdiri dari 51,55 juta wirausaha pemula dan 5,01 juta wirausaha mapan. Dimana persentase wirausaha pemula sebesar 91,14% dan wirausaha mapan sebesar 8,86%. Meski angka wirausaha muda besar, tapi mereka tetap butuh dukungan sebab belum mencapai standar ideal pengusaha mapan.
Dalam mendorong semakin mapannya pengusaha muda, maka dibutuhkan dukungan akses baik modal, regulasi dan pembinaan secara berkelanjutan. Berbagai dukungan pembangunan bisnis berkelanjutan dibutuhkan anak muda, sebab menjadi pengusaha adalah pilihan yang tidak mudah. Mereka harus diperkuat dengan pengalaman hidup para pengusaha mapan, belajar terus menerus mengenai kompetensi manajerial, keuangan, kepemimpinan dan soft skill lainnya. Kolaborasi pengalaman dan pengetahuan sangat dibutuhkan dalam memetakan persaingan bisnis. Sebab kegagalan mengalahkan kompetitor bisnis berpotensi membuat usaha wirausaha muda akan cepat mengalami kebangkrutan. Apalagi jika melihat karakter anak muda yang cenderung labil emosional dan terpengaruh konsep sukses secara instan. Sehingga jelas dibutuhkan dukungan maksimal dari pengusaha mapan.
Selain dukungan yang ada, pembangunan bisnis berkelanjutan membutuhkan bimbingan intensif membaca kebutuhan bisnis kekinian baik pemanfataan digitalisasi dan memperluas akses pasar hingga ke mancanegara. Di tengah pengaruh massif digital, sinergitas bisnis berbasis digital merupakan cara yang lumayan efektif dalam meningkatkan keuntungan bisnis wirausaha muda. Selain itu, bimbingan pengusaha ”senior” dan dukungan pemerintah dalam menciptakan pasar luar negeri sangat dibutuhkan agar membuka cakrawala pengetahuan berbisnis yang go internasional. Untuk itu, wirausaha muda juga harus secara berkelanjutan meningkatkan kemampuan bahasa asing dan diplomasi bisnis yang berkelas internasional. Jika semua dukungan pengetahuan dan pengalaman dijalankan dengan baik wirausaha muda, kita layak optimis Indonesia akan tinggal landas dari masyarakat pekerja menuju masyarakat berwirausaha. ( Inggar Saputra / Pengamat )
MBK.







