Syaykh Panji Gumilang Rayakan Milad ke-79 dengan “Petisi untuk Negeri”, Serukan Visi Indonesia 2045

Mediaberitakini.com | Dalam suasana penuh khidmat di Pondok Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, Syaykh Panji Gumilang merayakan milad ke-79 dengan membacakan puisi berjudul Petisi untuk Negeri. Momen ini menjadi lebih dari sekadar peringatan ulang tahun—ia menyuarakan seruan moral dan spiritual untuk arah pendidikan Indonesia menjelang satu abad kemerdekaan 2045.

Acara bertajuk Bincang Bersama Manifestasi Doa itu digelar pada Rabu (30/7/2025) sebagai refleksi atas perjalanan panjang Syaykh Panji sebagai tokoh pendidikan dan pendiri Al-Zaytun. Dalam suasana santai namun sarat makna, ia menyampaikan pesan-pesan mendalam mengenai pentingnya pembangunan karakter bangsa melalui jalur pendidikan berbasis nilai dan spiritualitas.

Kami tidak meminta istana, kami hanya berharap asrama,” ucap Syaykh Panji dalam salah satu bait puisinya yang mengundang tepuk tangan hadirin. Puisi itu kini mulai viral di berbagai platform digital sebagai Petisi Jiwa untuk Negeri—suatu seruan halus, namun kuat, bagi para pengambil kebijakan di bidang pendidikan nasional.

Lintas Iman dan Budaya Hadir

Sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang turut hadir dalam acara tersebut, menunjukkan komitmen Al-Zaytun sebagai ruang dialog inklusif lintas iman dan budaya. Di antara yang hadir adalah Ketua Umum PEWARNA Indonesia Yusuf Mujiono, Ketua Umum Asosiasi Pendeta Indonesia Pdt. Harsanto Adhi, budayawan Eddie Karsito dari Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, serta akademisi dan tokoh koperasi dari berbagai institusi nasional.

Dalam sambutannya, Eddie Karsito menyoroti pentingnya peran pendidikan berbasis agama dalam merespons tantangan zaman, termasuk derasnya arus informasi dari media sosial yang kerap memicu degradasi moral.

Pembangunan sering diukur dari pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur. Tapi mental dan spiritual sering kali terabaikan. Padahal, itu fondasi peradaban,” kata Eddie.

Menabur Harapan Menjelang Indonesia Emas 2045

Melalui Petisi untuk Negeri, Syaykh Panji menggugah kesadaran akan pentingnya membangun rumah jiwa, bukan hanya gedung sekolah. Ia menyerukan keberpihakan negara dalam menyediakan fasilitas pendidikan yang layak bagi para santri, terutama asrama yang aman, manusiawi, dan membangun karakter.

Di usianya yang hampir memasuki delapan dekade, tokoh kharismatik itu justru meneguhkan harapannya akan terwujudnya Indonesia Emas 2045—sebuah visi besar tentang bangsa yang tangguh dalam nilai, kuat dalam karakter, dan berdaya saing tinggi di mata dunia.

“Pendidikan bukan sekadar rapor, tapi lantai jiwa. Tempat karakter ditumbuhkan,” ucapnya penuh semangat.

Al-Zaytun Sebagai Laboratorium Jiwa Bangsa

Syaykh Panji menegaskan bahwa Pondok Pesantren Al-Zaytun tidak sekadar lembaga pendidikan formal. Lebih dari itu, ia menyebutnya sebagai “laboratorium jiwa bangsa”—tempat tumbuhnya para pemimpin masa depan dengan karakter luhur dan semangat kebangsaan yang utuh.

Momentum milad ke-79 ini, menurut para pengamat pendidikan, menunjukkan bahwa perjuangan membangun bangsa tidak mengenal usia. Justru dari keteduhan pesantren, lahir suara-suara jujur yang menyuarakan harapan rakyat kecil dengan cara yang elegan.

Kami mohon bukan dengan teriakan, tapi dengan bait yang jujur. Karena Indonesia tidak akan kuat, jika anak-anaknya kehilangan arah,” ujar Syaykh Panji menutup puisinya.

Show More
Back to top button