Pentingnya Cakap Literasi Dalam Mendukung Indonesia Emas 2045

Oleh : Inggar Saputra (Praktisi Pendidikan dan Kebangsaan

Mediaberitakini.com | Sebagai warga negara Indonesia, kita perlu memahami dua konsep yang saling terkait yaitu nasionalisme dan internasionalisme. Nasionalisme warga negara berkaitan dengan upaya warga negara dalam mendukung kemerdekaan, kemajuan dan kedaulatan negara. Implementasinya diwujudkan dalam bela negara dan cinta tanah air, setiap individu Indonesia berjuang dengan kompetensi baik fisik dan nonfisik. Kemampuan fisik warga negara dapat dijalankan dengan aktif sebagai tentara maupun komponen cadangan. Sementara non-fisik dengan berjuang mengharumkan nama Indonesia melalui berbagai keterampilan dan keahlian yang dimilikinya.

Tak cukup nasionalisme, sebab bangsa Indonesia hidup dalam pergaulan masyarakat antar negara. Dalam era globalisasi, batas antar negara difasilitasi teknologi dan kehidupan digital sehingga semakin menyempit. Kita dapat mengetahui informasi yang terjadi di berbagai belahan dunia dalam hitungan detik. Adanya media baru seperti internet dan media sosial memberikan kemudahan mengakses informasi dan mendapatkan jejaring komunikasi dalam pergaulan internasional. Kondisi ini mendorong setiap manusia Indonesia mampu terhubungkan secara global dan mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman mengenai kemajuan yang terjadi di negara lainnya.

Untuk mempertemukan nafas nasionalisme dan internasionalisme, maka warga negara memnbutuhkan kemampuan cakap literasi. Secara sederhana, Cakap literasi adalah istilah yang mengacu pada kemampuan individu untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan menyampaikan informasi secara efektif dalam berbagai bentuk dan konteks. Seseorang yang cakap literasi akan mampu membaca dan menulis dengan baik. Dua aktivitas ini bersifat kebutuhan mendasar dalam kehidupan manusia yang menciptakan ketergantungan sehingga mendidik manusia menjadi cerdas, terampil dan mampu mendorong masyarakat yang literat.

Dalam konteks nasionalisme adanya cakap literasi akan ikut menentukan sejauhmana keinginan bangsa Indonesia mencapai Indonesia Emas 2045 dapat tercapai. Konsep Indonesia Emas 2045 sendiri berakar dari adanya potensi bonus demografi, dimana nantinya anak muda Indonesia diharapkan mampu menjadi pemimpin dan mengisi ruang jabatan publik yang bersifat nasional dan global. Menjadi pemimpin nasional dan global membutuhkan keahlian mempengaruhi orang lain, memiliki daya tawar posisi yang baik, dan mampu mengatur orang lain menuji kehidupan sehat, produktif, solutif dan kreatif.

Transformasi menuju masyarakat Indonesia Emas 2045 membutuhkan daya intelektual yang terpenuhi melalui asupan membaca. Bacaan yang baik, berkualitas dan mampu diakses masyarakat menjadi tantangan utama Indonesia saat ini. Di tengah tren digital, kegemaran masyarakat akan membaca perlu terus ditingkatkan, difasilitasi dan dimudahkan oleh negara sehingga tercipta kondisi masyarakat yang melek aksara dan merdeka secara pengetahuan. Ketika sebuah bangsa sudah merdeka aksara dan terbudayakan membaca, maka perlahan akan muncul banyak gagasan kreatif dan solutif dalam membenahi berbagai problematika kebangsaan yang semakin kompleks ke depannya.

Tak berhenti dalam membaca, sebagai pemimpin muncul tuntutan untuk menyebarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Dalam hal itu, menulis merupakan keberlanjutan dari semangat cakap literasi yang sudah melewati tahapan masyarakat gila membaca. Dengan menulis, seorang pemimpin di era Indonesia Emas 2045 sedang membagikan pengetahuan dalam mendukung orang lain agar cerdas dan berfikir visioner seperti dirinya. Kemampuan mempengaruhi orang lain melalui menulis akan meningkatkan daya tawar dan posisi pemimpin di ruang publik. Bagaimanapun seorang pemimpin pada dasarnya harus mampu menciptakan berjuta manfaat dan mendorong banyak solusi komprehensif bagi masyarakat yang dipimpinnya.

Kita perlu menyadari persoalan kebodohan adalah musuh utama bangsa Indonesia. Gerakan bela negara melalui cakap literasi yang ditandai kemampuan membaca dan menulis bersifat mendesak belakangan ini. Tanpa budaya baca tulis yang baik, keinginan mendorong Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai. Sebaliknya jika manusia Indonesia terbudayakan membaca dan menulis, maka kepemimpinan nasional dan global akan banyak dipegang putra putri Indonesia. Semakin banyak membaca dan menulis, niscaya seseorang akan diangkat derajatnya ke puncak tertinggi dan mendidiknya menjadi pemimpin yang rendah hati di balik segala kecerdasan intelektual, emosional dan spiritualitasnya.

Show More
Back to top button